POSITIVISME & POST-POSITIVISME

 POSITIVISME & POST-POSITIVISME

Nama           :   Restu firmansyah

Nim              :   2001030100

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi




Paradigma 

    Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). 




Sejarah Positivisme
  1. Saint Simon ( Sekitar 1825)
  2. Prancis Bacon yang hidup sekitar abad ke-17
  3. Course de Philosophie Phositive, kursus tentang filsafat positf (1838- 1842), Auguste Comte
Positivisme
  • Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata positif disini sama artinya dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta.
  • Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik 

Gagasan Positivisme
  1. Positivisme adalah aliran filsafat ilmu yang didasari atas keyakinan atau asumsi-asumsi dasar :
  2. Ontologi : Realisme. Semesta digerakkan oleh hukum-hukum alam secara mekanis dalam hukum jika.... Maka....
  3. Epistemologi : Dualisme . Menggambarkan semesta apa adanya tanpa keterlibatan nilai-nilai subjektif peneliti.
  4. Metodologi : eksperimental. Hipotesis dirumuskan lebih awal lalu diverivikasi dibawah situasi yg terkontrol (Doni Gahral Adian, 2002 : 136) 

Ciri-dri Positivisme (Doni Gahral Adian, 2002 : 68)
  1. Bebas Nilai : keyakinan, gagasan, emosi peneliti tidak terlibat. Peneliti Objektif 
  2. Fenomenalisme : Peneliti mengamati gejala belaka. Bukan dibalik fenomena itu
  3. Nominalisme : kebenaran berdasarkan nama atau ukuran. Bukan kenyataan itu sendiri 
  4. Reduksionisme : mereduksi kenyataan menjadi fakta-fakta yg dapat dipersepsi
  5. Naturalisme : semua gejalah berjalan secara alamiah tanpa campur tangan hal-hal mistis 
  6. Mekanisme : semua gejala dapat dijelaskan secara mekanis-determinis layaknya sebuah mesin 

FUNGSI POSITIVISME
  • Perkembangan yang diberi konotasi sebagai kemajuan memberikan makna bahwa positivisme telah mempertebal optimisme
  • Kemajuan dalam bidang fisik telah menimbulkan berbagai dalam segi kehidupan.
  • Dengan adanya penekanan dari filsafat positivisme terhadap segi rasional ilmiah, maka berfungsi pula kemampuannya untuk menerangkan kenyataan, sedemikian rupa sehingga keyakinannya akan kebenaran semakin terbuka (Adi, 2012).

Post-Positivisme
  1. Muncul pada tahun 1970/1980an
  2. Tokohnya adalah Karl R. Popper
  3. Memiliki perbedaan dengan positivisme dalam memandang realitas. Paradigma positivisme realitas yang diamati sebagaimana adanya, sedangkan post positivisme memandang adanya peran serta subjek yang menentukan ada tidaknya realitas. Oleh karena itu, kaum post-positivis mengakui realitas yang beragam

Post-Positivisme 

    Postpositivisme adalah aliran yang ingin memperbaiki kelemahan pada Positivisme. Satu sisi Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa realitas itu memang nyata ada sesuai hukum alam. Tetapi pada sisi lain Postpositivisme berpendapat manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas. 

Post-Positivisme 

Ontologi Critical Realism. Realitas memang ada dalam kenyataan tetapi suatu hal yg mustahil bila peneliti dapat melihat realitas itu secara benar
Epistemologi Objektivisme yg dimodifikasi. Mendasari pada kausalitas dan keteraturan, namun relasi kausal tidak sederhana tetapi multiplisitas faktor
Aksiologi
  1. Tidak bebas nilai. 
  2. Hubungan antara peneliti dan objek yg diteliti tidak bisa dipisahkan. 
  3. Peneliti dapat melihat kebenaran apabila berinteraksi dengan objek yg ditelit
Proses dari positivisme ke post-positivisme melalui kritikan dari tiga hal yaitu : 
  1. Observasi sebagai unsur utama metode penelitian, 
  2. Hubungan yang kaku antara teori dan bukti. Pengamat memiliki sudut pandang yang berbedadan teori harus mengalah pada perbedaan waktu, 
  3. Tradisi keilmuan yang terus berkembang dan dinamis (Salim, 2001). 
Ontology
positivisme bersifat nyata, artinya realita itu mempunyai keberadaan sendiri dan diatur oleh hukum-hukum alam dan mekanisme yang bersifat tetap.
Post-positivisme Realis kritis – artinya realitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya.

Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Dalam perkembangannya ada tiga positivisme, yaitu positivisme sosial, positivisme evolusioner dan positivisme kritis. Post-positivisme merupakan perbaikan positivisme. Secara ontologis aliran postpositivisme bersifat critical realism artinya realitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya artinya.post positivisme bergantung pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, keyakinan, natural dan lebih manusiawi. Indikator yang membedakan antara Paradigma positivisme dan postpositivism adalah post positivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode 

Komentar

Postingan Populer