PEMIKIRAN FILSAFAT YUNANI, BARAT & ISLAM
PEMIKIRAN FILSAFAT YUNANI, BARAT & ISLAM
Nama :
Restu firmansyah
Nim
: 2001030100
Kelas/Prodi :
3B Ilkom
Tugas Mata Kuliah : Filsafat
Komunikasi
PEMIKIRAN FILSAFAT YUNANI, BARAT & ISLAM
Latar Belakang Lahirnya Filsafat Yunani
Sejarah telah mencatat bahwa tanah kelahiran dan perkembangan Filsafat adalah Yunani. Kata Filsafat itu sendiri berasal dari kata-kata Yunani yakni Philo dan Shopia. Philo artinya cinta yang dalam makna luas bisa diartikan dengan keingintahuan yang mendalam dan Sophia yang artinya kebijaksanaan atau kepandaian.
Orang yang mempelajari Filsafat adalah seorang Pecinta kebijaksanaan yang tidak pernah puas akan suatu ilmu pengetahuan dan menganggap kebenaran itu tidak akan pernah berakhir (final). Mereka terus berusaha mencari kebenaran sampai keakar-akarnya. Terlahirnya filsafat di Yunani merupakan hal yang benar-benar menakjubkan, bahkan ajaib karena tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan untuk menjelaskannya. Namun demikian ada faktor-faktor yang mendahului, bahkan seakan-akan telah dipersiapkan untuk Yunani sebagai tempat kelahiran filsafat dunia. Hal-hal yang seakan-akan telah dipersiapkan itu antara lain: Bangsa Yunani pun adalah bangsa yang kaya dengan mitos, dan itu telah menjadi kepercayaan yang turun temurun. Bangsa Yunani mampu memilih dan memilah mitos-mitos tersebut menjadi satu rangkaian yang utuh dan sistematis. Kemampuan itulah yang menandakan bahwa bangsa Yunani telah mampu berpikir rasional.
Bangsa Yunani adalah bangsa yang kaya akan karya sastranya, yang sekaligus dijadikan sebagai media edukatif bagi masyarakatnya. Bangsa Yunani sangat menghargai akan ilmu pengetahuan, mereka selalu menggunakan ilmu tidak semata-mata untuk kepentingan yang bersifat mencari keuntungan, akan tetapi lebih kepada pemenuhan kepentingan ilmu itu sendiri.
Filsafat Barat
Filsafat barat tidak lepas dari filsafat histories (sejarah). Awal mula filsafat barat adalah keinginan yang mengarah pada pemikiran peradaban barat. Filsafat barat dibagi dengan 4 periode :
- Periode Yunani (600 SM- 400 M) Dipandang sebagai zaman keeemasan karena pada masa ini semua orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan pendapat serta ide- idenya. Beberapa tokoh yang terkenal yaitu Thales, Phytagoras, Socrates, Democritus, Plato, Aristoteles.
- Zaman Patristik dan Skolastik (300 M- 1500 M) Biasa disebut dengan zaman pertengahan. Pada zaman ini agama Kristen semakin besar serta filsafatnya bersifat spiritual. Melahirkan teori pencipta alam semesta, teori yang sangat terkenal yaitu tentang emanasi (melimpah) yang merupakan jawaban dari beberapa pertanyaan tokoh filusuf lain seperti apa bahan alam semesta ini.
- Zaman Modern (1500 M- 1800 M) Lahirnya gerakan Renaissance di Prancis dan Italia, Enlightment di Inggris dan Aufklarung. Eropa pada zaman ini berada pada masa pencerahan. Disini lah berawal pemisahan kewenangan antara keilmuan atau sains dengan agama. Pemisah ini yang dapat memicu perkembangan dan penyebaran filsafat barat yang sangat pesat.
- Zaman Sekarang (setelah 1800 M) Lahirnya paham- paham baru diantaranya yaitu Fenomologi, Feminisme, Eksistensialisme dan pan paham- pajham lainnya. Kemuadian para filusuf mengkhususkan pada objekobjek kajian filsafat tertentu. Pada zaman sekarang banyaknya beredar jurnal filsafat (kumpulan beberapa tulisan oleh penulis yang berbeda).
Filsafat Islam
Filsafat Islam juga sering disebut filsafat Arab dan filsafat Muslim merupakan suatu kajian sistematis terhadap kehidupan, alam semesta, etika, moralitas, pengetahuan, pemikiran, dan gagasan politik yang dilakukan di dalam dunia Islam atau peradaban umat Muslim dan berhubungan dengan ajaran-ajaran Islam. Dalam Islam, terdapat dua istilah yang erat kaitannya dengan pengertian filsafat— falsafa (secara harfiah "filsafat") yang merujuk pada kajian filosofi, ilmu pengetahuan alam dan logika, dan Kalam (secara harfiah berarti "berbicara") yang merujuk pada kajian teologi keagamaan,
Merujuk pada periodisasi yang dicetuskan Harun Nasution, perkembangan kajian filsafat Islam dapat dibagi ke dalam tiga periode yaitu periode klasik, periode pertengahan,dan periode modern. Periode klasik dari filsafat Islam diperhitungkan sejak wafatnya Nabi Muhammad hingga pertengahan abad ke 13, yaitu antara 650-1250 M. Periode selanjutnya disebut periode pertengahan yakni antara kurun tahun 1250-1800 M. Periode terakhir yaitu periode modern atau kontemporer berlangsung sejak kurun tahun 1800an hingga saat ini.
Aktifitas yang berhubungan dengan kajian filsafat Islam kemudian mulai berkurang pascakematian Ibnu Rusyd pada abad ke-12 M. Terdapat banyak pendapat yang menganggap Al-Ghazali sebagai sosok utama dibalik kemunduran kajian filsafat Islam. Gagasan-gagasan Al-Ghazali yang diterbitkan dalam bukunya Tahafut al-Falasifa dipandang sebagai pelopor lahirnya kalangan Islam konservatif yang menolak kajian filsafat dalam Islam. Buku ini memuat kritik terhadap kajian filsafat yang ditawarkan oleh filsuf seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi yang dianggap mulai menjauhi nilai-nilai keislaman. Namun, pandangan ini kemudian menjadi perdebatan dikarenakan Al-Ghazali juga dikenal secara luas oleh pemikir-pemikir Islam sebagai seorang filsuf. Bahkan, dalam pendahuluan di buku tersebut Al-Ghazali menuliskan bahwasannya, kaum fundamentalis adalah "kaum yang beriman lewat contekan, yang menerima kebohongan tanpa verifikasi". Ketertarikan dalam kajian filsafat Islam dapat dikatakan mulai hidup kembali saat berlangsungnya pergerakan Al-Nahda pada akhir abad ke-19 di Timur Tengah yang kemudian berlanjut hingga kini. Beberapa tokoh yang dianggap berpengaruh dalam kajian filsafat Islam kontemporer diantaranya Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Buya Hamka.
Sejarah
Secara historis, perkembangan filsafat dalam Islam dapat dikatakan dimulai oleh pengaruh kebudayaan Hellenis, yang terjadi akibat bertemunya kebudayaan Timur (Persia) dan kebudayaan Barat (Yunani). Pengaruh ini dimulai ketika Iskandar Agung (Alexander the Great) yang merupakan salah satu murid dari Aristoteles berhasil menduduki wilayah Persia pada 331 SM. Alkulturasi kebudayaan ini mengakibatkan munculnya benih-benih kajian filsafat dalam masyarakat Muslim di kemudian hari. Penerjemahan literatur-literatur keilmuan dari Yunani dan budaya lainnya ke dalam bahasa Arab secara besar-besaran di era Bani Abbasiyah (750-1250an M) dapat dikatakan memberi pengaruh terbesar terhadap kemunculan dan perkembangan kajian filsafat Islam klasik. Peristiwa tersebut kemudian menjadikan periode ini sebagai zaman keemasan dalam peradaban Islam. Ini sekaligus menunjukan keterbukaan umat Muslim terhadap berbagai pandangan yang berkembang saat itu, baik dari para penganut keyakinan monoteis lainnya, seperti kaum Yahudi yang mendapat posisi penting saat itu di negeri-negeri Islam (Ravertz, 2004: 20), hingga kaum Pagan, yang terlihat dari ketertarikan umat Muslim terhadap literatur bangsa Yunani Kuno yang mana sering diidentikan dengan ritual-ritual Paganisme.
Komentar
Posting Komentar